Lale : Musik March dengan Maliq Memang Jauh Berbeda

Lale berpose dengan gaya casual, meskipun seorang gitaris metal..

Saat ini banyak musisi Indonesia yang membuat sebuah project sampingan, di luar band awal ia berkarya atau membuat grup musik di samping solo karirnya. Apa jadinya bila seorang musisi, gitaris misalnya, bermain dalam dua band berbeda genre sebesar 180 derajat? Arya Aditya Ramadhya atau lebih dikenal sebagai Lale “Maliq”. Ia eksis ngeband dengan band metalnya, MARCH, dan juga band jazz yang sudah terkenal di Indonesia, Maliq & D’Essentials.

Saya Satria Perdana diberi kesempatan untuk berbincang dengan Lale, ditengah kesibukannya berkarya. berikut ini ialah percakapannya.

1.      Bisa cerita apa arti jazz dan metal buat lo?
Mungkin itu dua dari sekian banyak referensi musik yang saya dengerin ya. Karena saya sangat terbuka dengan jenis musik apapun.
2.      Ketika latihan atau belajar gitar, aliran apa yang dipelajari pertama kali?
Waktu kecil saya lumayan didoktrin untuk dengerin Carpenters, Beatles, Bread dan lagu2nya Burt Bacharach sama orang tua saya. Jadi mungkin influence bermusik saya banyak dipengaruhi 60’s, 70’s music kali ya.
3.      Bisa cerita sekilas pertama kali lo masuk March bagaimana?
Awalnya saya bantuin mereka karena mereka butuh additional guitarist. Sebelumnya yang bantuin mereka itu Rian Omelet. Cuma mungkin pada saat itu dia sibuk, jadi akhirnya saya yang bantuin March. Beberapa kali March manggung sampai akhirnya mereka nawarin saya untuk masuk ke band.
4.      Apa yang membuat lo merasa udah betah banget di March yang beraliran metal?
Apa ya.. Saya sangat nyaman dengan musiknya, bandnya, personil-personilnya. Kita udah deket banget.
5.      Sampai sekarang influence lo di band metal apa dan siapa gitaris yang jadi panutan lo?
Saya sebenernya nggak metal-metal banget orangnya (sambil tertawa). Saya dengerin tapi ga fanatik. Untuk gitaris, saya suka Marty Friedman, Frank Gambale, Scott Henderson.
6.      Beralih ke Maliq, bagaimana ceritanya lo bisa bergabung dengan mereka?
Waktu itu mereka emang lagi kosong posisi gitarnya. Saya dikenalkan ke mereka oleh teman saya, Aryo drummernya Twentyfirstnight.
7.      Ada perasaan seperti culture shock gak waktu main di aliran jazz?
Engga juga. Jauh sebelum saya main sama, March saya emang udah ngeband bawain musik seperti itu.
8.      Bagaimana rasanya pertama kali lo main di televisi?
(Sambil tertawa) awalnya ya.. lumayan tegang. Tapi setelah berkali-kali jadi biasa aja.
9.      Apa yang pertama kali lo rasain waktu pertama kali main jazz?
Saya sebenernya gak ngejazz-ngejazz amat juga lho (tertawa). Kalau disuruh ngejam main pure jazz ya saya pasti akan sedikit bingung harus apa. Di mata saya jazz itu hanya salah satu influence aja. Saya cuma main musik yang nyaman menurut saya.
10.  Gimana sih caranya biar lo bisa dapat feel yang sama ketika manggung di jazz maupun metal?
Musik March dengan Maliq memang jauh berbeda. Tapi karena saya selalu berikan yang terbaik dan main senyaman mungkin, hasilnya sama aja kok, saya tetap headbang.
11.  Buat urusan latihan, biasanya pola latihannya seperti apa kalau bermain jazz?
Standard, banyak-banyak fingering dan cari-cari referensi.
12.  Terus kalo metal bagaimana?
Sama aja kok (tertawa lagi.)
13.  bagaimana caranya lo bagi waktu lo buat March dan Maliq?
Karena Maliq lebih sibuk jadi kadang March yang lebih sering memberikan kompensasi untuk saya. Kadang March hanya main dengan satu gitaris (Ryan). Tapi yang paling utama dan penting adalah komunikasi. Jadi hubungan antara kedua band tetap mulus dan asik.
14.  Saat ini kan Maliq bisa dibilang sebagai band yang paling sering lo beri kontribusi, lal untuk March nanti bagaimana kontribusinya?
Engga juga kok. Saya masuk Maliq setelah Maliq udah ‘jadi’. Sedangkan saya ikut membangun March hampir dari ‘awal’. Dua-duanya saya jalani dengan sepenuh hati. Maliq atau March menjadi seperti sekarang, masing-masing mempunyai arti kepuasan tersendiri bagi saya.
15.  Banyak nih sekarang yang ngefans sama lo Lale dan kebanyakan adalah cewe-cewe, karena lo main di Maliq kan. Nah, apakah profesi lo di Maliq saat ini yang beraliran jazz udah benar-benar melekat?
Saya kurang mengerti dengan pertanyaannya. Hmm.. Kalau dibilang melekat, tentu sangat melekat. Karna ‘saya’ yang anda lihat di panggung March atau Maliq tetap ‘saya’ kan? Mungkin kalau gigs metal dulu banyak penonton cewenya, situasinya mungkin tidak akan jauh berbeda juga (kembali tertawa).
16.  Ke depannya, lo bakal memprioritaskan March yang beraliran metal atau Maliq dengan jazznya?
Balik lagi. Saya sangat mencintai dua rumah ini dan saya bisa seperti sekarang berkat keduanya. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk pilih kasih. Dua-duanya akan mendapat perhatian yang seimbang dari saya. Ya.. semoga kerjasama ini bisa terus berjalan dan menjadi lebih baik kedepannya

Jadi, bisa kita ketahui kalau seorang musisi seperti Lale, gitaris March dan Maliq, sangat peduli dengan dua band yang membesarkan namanya. Mungkin ada di antara kita yang bisa mengikuti jejak Lale? Selalu ada kemungkinan untuk itu. ***

Written by Satria Perdana
Photo by Satria Perdana

Advertisements

About hipyourhop

Just check my twitter

Posted on September 19, 2011, in Interview, Music. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: